Menjadi Kuli

Dilihat : 645 Kali, Updated: Rabu, 26 Pebruari 2025
Menjadi Kuli

Senin pagi selama Januari-April 2025 adalah waktu yang cukup sibuk bagi Camat Kebasen Wahyu Adhi Fibrianto, S.STP, M.A.P. Korwilcam Dindik Kecamatan Kebasen menjadwalkan Forkompimcam untuk menjadi Pembina upacara di sekolah-sekolah wilayah Kecamatan setiap hari Senin, termasuk diantaranya adalah Camat. Setidaknya ada 29 SD di Kecamatan Kebasen. Banyak tema atau materi yang disampaiakn oleh Camat kepada anak-anak SD. Tentang pengenalan apa itu bullying dan berpesan agar tidak terjadi, juga tentang stunting, tentang makanan bergizi dll.

Selain itu disampaikan juga pesan agar anak – anak terlatih untuk bangun pagi, berolahraga, persiapan sekolah, sarapan, mengikuti pelajaran dengan baik, hormat dengan guru, saling menyayangi teman, serta meraih cita-cita setinggi-tingginya.

Dalam setiap kesempatan upacara, sebagai pembina upacara Camat Kebasen selalu memanggil beberapa anak untuk maju ke depan. Selain menyampaikan quis untuk dijawab oleh mereka, juga selalu ditanyakan apa cita-cita yang ingin diraih di masa depan.

Unpredictable. Itu kira-kira kata yang pas untuk menunjukan satu moment yang mengejutkan di salah satu sekolah ketika Camat menanyakan cita-cita yang ingin diraih kepada salah seorang anak SD kelas 5 di salah satu sekolah. Jawaban yang tidak diprediksi sama sekali, ketika ditanyakan apa cita-citanya ketika besar kelak. Dijawab dengan kalimat pendek, menjadi kuli.

Di era digital saat ini dimana informasi dari luar sangat deras. Akses terhadap informasi oleh anak-anak sudah tidak ada kata tertinggal. Tapi jawaban "menjadi kuli" ketika ditanya cita-cita, tentu membuat kita semua sebagai orang tua kaget dan patut prihatin. Bukan berarti menjadi kuli tidak boleh, tapi ini bicara tentang cita-cita, tentang sesuatu yang ideal di masa depan. Dan kalau hari ini mereka kelas 5, artinya di tahun 2045 yang digadang-gadang menjadi Indonesia Emas, usia anak-anak itu sudah 32 tahun. Merekalah generasi yang kita harapkan menjadi generasi emas Indonesia itu.

Memang, dalam buku Memahami Cita Cita Anak yang diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal Kementerian Pendidikan Nasional Tahun 2011 oleh Yulianti Siantayani, M.Pd, faktor-faktor yang mempengaruhi cita-cita anak antara lain adalah latar belakang pendidikan orang tua, contoh dari orang tua dan pola asuh yang ditanamkan di keluarga.

Pendidikan orang tua dan contoh yang diperlihatkan orang tua, memang cukup mempengaruhi pola pikir yang berdampak pada cita-cita anak. Tapi dua hal itu sesungguhnya dapat dirubah pengaruhnya ketika pola asuh terhadap anak dilakukan dengan baik. Bukankah banyak para orang tua yang menjadi petani tetap mengharapkan anaknya untuk lebih maju dari orang tuanya? Kalau toh menjadi petani, tentu bukan petani seperti orang tuanya. Dan terbukti banyak dari kita dahulu yang orang tuanya adalah petani. Tapi saat kita dewasa dan tua, terbukti bisa lebih baik dari orang tua kita.

Maka pola asuh menjadi penting untuk membentuk pola pikir anak menghadapi masa depannya. Orang tua perlu memberikan pengertian sederhana tentang peran-peran yang ada di lingkungan mereka. Sampaikan dengan pola asuh yang luwes, ajak anak bertukar pikiran. Contoh yang dapat dilakukan orangtua misalnya ketika di rumah kedatangan tamu saudara yang memiliki suatu profesi tertentu, orang tua dapat menjelaskan tentang pekerjaan tamu tersebut. Mintalah pada tamu untuk menjelaskan kepada anak tentang profesi yang dimiliki, tugasnya, peralatan yang dimiliki dan lain-lain. Atau ketika orangtua sedang bepergian dengan anak dan menemukan orang-orang di jalan, ajaklah berdiskusi sederhana. Sampaikan peran dari orang tersebut dan dampak kebaikan yang ditimbulkan atas pekerjaan orang tersebut.

Peran bapak ibu guru di sekolah juga memagang posisi penting kepada anak-anak. Guru berkewajiban mendidik anak-anak bukan sekedar mengajar. Sudah bagus Forkompimcam dilibatkan walau mungkin setahun sekali, tapi dengan kasus di atas, mudah-mudah lebih banyak yang menyadari bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab guru di sekolah, tapi juga tanggung jawab orang tua di rumah dan pemangku kebijakan di semua levelnya. 

Komentar